BAB I
SEJARAH MUNCULNYA HADITS
Nabi Muhammad bukanlah kepala negara atau raja, tetapi beliau dihormati para sahabatnya. Seluruh perbuatan, tutur kata serta gerak-gerik beliau menjadi perhatian para sahabat untuk dijadikan contoh atau pedoman hidup bagi mereka.
Sahabat yakin bahwa mereka diperintahkan untuk mengikuti serta menaati apa saja yang diperintahkan beliau, sebagaimana pernah disabdakan beliau, “Barang siapa mengikutiku, maka ia termasuk golonganku, dan barang siapa tidak mencintai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku”(H.R.Muslim).
Seluruh apa yang dilihat didengar dan disaksikan oleh para sahabat tentang Rasulullah selama hidup beliau semuanya adalah sunnah. Dan itu oleh para sahabat kemudian diriwayatkan di antara mereka juga kepada generasi setelah mereka. Para sahabat dalam mendapatkan sunnah dari Rasulullah adalah dengan salah satu dari beberapa cara berikut:
1. Melalui majlis ta’lim Rasulullah.
2. Melalui ceramah atau pidato di tempat terbuka.
3. Melalui peristiwa yang beliau alami lalu beliau menjelaskan hukumnya.
4. Melalui peristiwa yang dialami oleh para sahabat, lalu ditanyakan kepada Nabi, dan beliau menjelaskan hukumnya.
5. Melalui perilaku dan perbuatan Rasulullah yang disaksikan oleh para sahabat.
6. Untuk yang bersifat pribadi (persoalan keluarga terutama menyagkut hubungan suami istri), Nabi menyampaikan melalui istri-istrinya.
Pada masa Rasulullah ini periwayatan hadits masih sebatas periwayatan dengan lisan, dan belum ada penulisan atau pembukuan hadits secara resmi karena memang dilarang oleh Rasulullah. Rasulullah khawatir akan bercampurnya dengan al-Qur’an. Ada juga riwayat yang menceritakan bahwa Rasulullah memberi izin kepada para sahabat untuk menulis hadits. Beberapa ulama berpendapat:
a) Larangan itu ada pada awal islam, sedangkan izin itu diberikan setelah para sahabat dirasa mampu membedakan antara al-Qur’an dan sunnah.
b) Larangan itu bersifat umum, sedangkan izin menulis tersebut hanya diberikan kepada orang-orang tertentu saja secara khusus.
c) Larangan menulis tersebut bersifat umum, sedangkan izin tersebut adalah hanya ketika ada kepentingan khusus.
Di antara sahabat yang menulis hadits adalah Abdullah bin Amr bin Ash yang tuisannya dikenal dengan nama Ash-Shahifah Ash-Shadiqah, dan Jabir bin Abdullah Al-Anshori yang catatannya dikenal dengan nama Shahifah Jabir.
BAB II
URGENSI PEMBUKUAN HADITS
Penulisan hadits secara resmi yaitu pada abad kedua, diprakarsai oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ulama yang pertama kali menulis hadits atas perintah khalifah adalah Mmuhammad bin Syihab Az-Zuhri yang kemudian diikuti ulama yang lain. Penulisan hadits secara resmi ini dilatarbelekangi oleh beberapa alasan, yaitu:
a) Kekhawatiran akan hilangnya hadits dan berkurangnya para ulama hadits, khususnya dari kalangan sahabat.
b) Semakin menyabarnya hadits-hadits palsu.
c) Tidak ada lagi kekhawatiran bercampurnya al-Qur’an dengan hadits.
BAB III
SANAD
Menurut bahasa, sanad berarti “sandaran”, yang dapat dipegangi atau percayai; kaki bukit atau kaki gunung. Sedangkan menurut istilah, sanad hadits berarti jalan yang menyampaikan kita pada matan hadits.
Dalam hubungannya dengan istilah sanad ini, dikenal juga istilah-istilah musnid, musnad, dan isnad. Yang dimaksud dengan musnid adalah orang yang menerangkan hadits dengan menyebutkan sanadnya. Sedangkan yang dimaksud dengan musnad ialah hadits yang disebut dengan diterangkan seluruh sanadnya yang sampaikepada Nabi saw. Adapun yang dimaksud dengan isnad ialah menerangkan atau menjelaskan sanadnya hadits (jalan datangnya hadits) atau jalan menyandarkan hadits.
Silsilatu Al-Dzahab (tinggi rendahnya rangkaian sanad), adalah sebagai berikut:
1. Ashahhu al-Asanid (sanad-sanad yang lebih shahih),
2. Ahsanu al-Asanid (sanad-sanad yang lebih hasan), dan
3. Adh’afu al-Asanid (sanad-sanad yang lebih lamah).
BAB IV
MATAN
Yang disebut “matnu al-hadits” adalah pembicaraan(kalam) atau materi berita yang diover oleh sanad yang terakhir. Baik pembicaraan itu sabda Rasulullah, sahabat ataupun tabi’in. Baik isi pembicaraan itu tentang perbuatan Nabi, maupun perbuatan sahabat yang tidak disanggah oleh Nabi.
BAB V
TAKHRIJ AL-HADITS
Secara bahasa: al-istinbath (mengeluarkan); al-tadrib (meneliti); al-taujih (menerangkan); ijtima’ amrain mutadhadain fii syai’in waahid (mengumpulkan dua perkara yang saling berlawanan dalam satu masalah).
Secara istilah takhrij al-hadits adalah melacak tempat hadits dari sumber-sumber aslinya, lengkap dengan sanad dan matannya dan menjelaskan kualitasnya (jika diperlukan).
Tujuan takhrij al-hadits adalah sebagai berikut:
Melacak hadits dari sumbernya yang asli lengkap dengan variasi sanad dan matan.
Mengetahui seluruh riwayat, lengkap dengan syahid (pendukung saksi primer) dan mutabi’(pendukung saksi sekunder)nya.
Metode-metode takhrij al-hadits ada 6 metode, yaitu 5 metode(manual; yakni menggunakan kitab-kitab terkait) dan 1 metode(dengan CD/media elektronika; yakni menggunakan CD-ROM al-Mausu’ah al-Hadits al-Syarif al-kutub al-Tis’ah.
Penyebab adanya beberapa metode ini adalah karena kitab-kitab yang ada bragam susunannya. Ada yang berdasarkan rawi, sanad, tema ataupaun alfabetis.
1. Ma’rifah Rawi al-Hadits min al-Shahabah (menggunakan nama rawi pertama hadits, atau sanad terakhir). Yakni melalui kitab-kitab Musnad, Mu’jam, dan Athraf yang umumnya memuat nama sahabat/tabi’in dengan menyebut semua hadits yang diriwayatkannya.
Kelebihan metode ini adalah:
- mengetahui jumlah hadits yang diriwayatkan sahabat tertentu dengan sanad dan atannya secara lengkap.
Kekurangan metode ini adalah:
- membutuhkan waktu yang reletif lama untuk menemukan sahabat tertentu dengan haditsnya, khususnya sahabat yang sangat banyak meriwayatkan hadits.
- tidak menunjukkan sumber kitab hadits primer lain dengan rinci (nama kitab, bab, nomor) yang telah diklasifikasi kualitasnya.
2. Ma’rifah Awwali Lafdz min Matn al-Hadits (menggunakan awal lafadz hadits)
Yakni melalui kitab-kitab yang disusun secara alfabetis.
Kelebihannya adalah:
-dengan cepat menemukan hasilnya.
Kekurangannya adalah:
-dengan mengetahui satu lafadz awal matan, hadits tersebut dapat ditelusuri sumber asli, sanad dan matannya secara lengkap, hanya saja kekurangannya adalah peneliti hadits masih harus bekerja keras karena tidak dicantumkannya nomor bab ataupun halaman dari hadits tersebut pada kitab tertentu.
3. Ma’rifah Juz’i min Matn al-Hadits (mengetahui sebagian lafadz hadits, awal, tengah atau akhir matan)
Catatan:
-Musnad Ahmad (ﺤﻡ)
-Shahih Muslim (ﻡ)
-Shahih Bukhari (ﺥ)
-Sunan Abu Dawud (ﺩ)
-Sunan al-Tirmidzi (ﺖ)
-Sunan al-Nasa’i (ﻦ)
-Sunan Ibnu Majah (ﺟﻪ)
-Sunan al-Darimi (ﺩﻯ)
Kelebihan metode ini adalah:
-mudah mencari dalam kitab hadits primer, karena petunjuk yang lengkap (juz, halaman, nama bab, nomor hadits, dll)
-banyak alternatif kata yang bisa dicari (bi al-Lafdzi dan bi al-Ma’na)
Kekurangan metode ini adalah:
-hanya memuat 9 kitab hadits tertentu,
-petunjuk yang diberikan kadang-kadang tidak sesuai, karena perbedaan cetakan dari kitab rujukan yang dipakai,
-tidak bisa dipergunakannya metode ini bila lafadz yang diketahui berupa huruf, isim, dhamir, nama orang, atau kata kerja yang sering dipakai,
-serta harus paham dasar-dasar bahasa arab.
4. Ma’rifah Maudhu’ al-Hadits (mengetahui tema hadits)
Mengetahui suatu hadits termasuk dalam tema tertentu, memungkinka seseorang menelusuri sumbernya yang asli, yakni kitab yang disusun berdasarkan bab-bab atau masalah-masalah tertentu. Kitab yang diperlukan antara lain:
-Kitab Miftah Kunuz as-Sunnah (kitab fiqih), karya Arnold John Wensinck ini telah diterjemahkan oleh Muhammad Fuad al-Baqi. Kitab tersebut memuat 14 kitab, yakni:
-Shahih al-Bukhori (ﺥ)
-Shahih Muslim (ﻤﺱ)
-Sunan Abi Dawud (ﺑﺪ)
-Jami’ al-Turmudzi (ﺗﺭ)
-Sunan al-Nasa’i (ﻧﺱ)
-Sunan Ibnu Majah (ﻣﺞ)
-Muwaththa’ Malik
-Musnad Ahmad (ﺤﻡ)
-Musnad Abi Dawud al-Thayalisi
-Sunan al-Darimi (ﻣﻰ)
-Musnad Zaid bin ‘Ali
-Sirah Ibn Hasyim
-Maghazi al-Waqidi
-Thabaqat Ibn Sa’ad
Kelebihan metode ini adalah:
-sumber rujukan banyak, yaitu 14 kitab hadits
Kekurangan metode ini adalah:
-sulit menentukan suatu hadits masuk tema mana, karena perbedaan persepsi dengan mukharrij kitab hadits tersebut.
5. Al-Nadhru fii Haal al-Hadits (mengetahui ciri-ciri tertentu dalam sanad dan matan hadits tersebut)
Meneliti secara seksama keadaan sanad dan matan hadits, yaitu dengan melihat petunjuk dari sanad, matan, atau saad dan matannya secara bersamaan.
Kelebihan metode ini:
-adanya penjelasan detail dan adanya hadits lain dengan ciri yang sama.
Kekurangannya adalah:
-perlunya pengetahuan yang mendalam bagi penelusur hadits untuk mengetahui keadaan sanad atau matan hadits.
6. Takhrij al-Hadits dengan CD Mausu’ah al-Hadits al-Syarif al-Kutub al-Tis’ah
Program ini merupakan software komputer yang tersimpan dalam compact disk read only memory (CD ROM) yang diproduksi Syakhr pada tahun 1991, edisi 1.2, yang memuat seluruh hadits al-Kutub al-Tis’ah lengkap dengan sanad dan matannya. Program ini juga memuat data-data biografi, daftar guru dan murid, penilaian kualitas, aspek ketersambungan, aspek penyandaran, dan skema sanadnya.
Kelebihannya:
-lebih cepat dan lebih mudah,
-dapat menggabungakan dengan banyak metode.
Kekurangannya:
-hanya merujuk pada 9 kitab hadits saja.
Ada 8 model yang bisa dipakai untuk mentakhrij dengan CD tersebut, yaitu:
1) Dengan nomor urut hadits, yaitu:
a) Buka menu utama,
b) klik ardh,
c) klik raqm hadits,
d) klik nama kitab hadits yang dipilih,
e) ketik nomor hadits yang dicari,
f) klik sistem penomoran yang dipilih,
g) klik gambar buku terbuka.
2) Berdasarkan daftar isi kitab (judul bab/sub bab), yaitu:
a) buka menu utama,
b) klik ardh,
c) klik tabwiib al-Mashaadir,
d) klik nama hadits yang dipilih,
e) klik judul bab yang dicari,
f) klik sub bab yang dicari dengan menggerakkan kursor ke atas/ke bawah,
g) klik hadits yang dipilih dalam qaa’imah al-ahaadiits,
h) klik gambar buku terbuka.
3) Memilih lafadz yang terdapat dalam daftar:
a) buka menu utama,
b) klik ma’aajim
c) klik mu’jam al-Mufahras al-Hadits
d) klik abjad hijaiyyah yang dipilih dalam mu’jam al-Mufahras
e) cari lafadz yang dibutuhkan dengan menggerakkan kursor dan klik,
f) pilih dalam qaaimah al-Mawaadhi’ hadits yang sesuai, lalu klil
g) klik buku terbuka
4) Aspek tertentu dalam hadits (ayat al-Qur’an nama, keadaan rawi, syair, derajat, dll), bisa digunakan untuk mencari:
ayat-ayat al-Qur’an yang disebut dalam hadits,
nama-nama (nabi, malaikat, tempat, perang, laki-laki, perempuan)
faharis al-Turmudzi (cari hadits yang diberi penilaian Turmudzi)
athraf hadits (qudsi, mutawatir, marfu’, mauquf, maqthu’)
ruwaah (hadits muttashil dan ghairu muttashil, mu’allaq, mursal, munqathi’)
aqwaal (bait syair, mushannif, murid-murid)
Caranya:
a) buka menu utama,
b) klik ardh,
c) klik fahaaris al-Mashaadir
d) pilih aspek yang akan dicari 6 alternatif yang ada dalam ‘ardh bi dhalaalah al-fahaaris, lalu klik,
e) pilih sub aspek dalam kotak di bawahnya, lalu klik,
f) klik gambar tabel di kotak kana bawah,
g) pilih dan klik hadits yang dicari dengan menggerakkan kursor atas bawah.
h) klik gambar buku terbuka.
5) Mengetik nama periwayatnya:
a) buka menu utama,
b) klik bahts,
c) klik bi dalaalah al-ruwah al-hadits,
d) ketik nama,dll (minimal nama saja),
e) klik kaca pembesar,
f) pilih nama yang dicari dan klik,
g) klik kaca pembesar,
h) pilih hadits dan klik,
i) klik buku terbuka.
6) Mengetikkan sebagian lafadz:
a) buka menu utama,
b) klik bahts kemudian pilih bahts al-Sharfy,
c) ketik kata/kalimat yang jarang dipakai,
d) klik kaca pembesar,
e) pilih kata/akar kata yang dicari, dan klik,
f) kli kaca pembesar,
g) pilih hadits yang sesuai dengan menggerakkan kursor dan klik,
h) klik buku terbuka.
7) Memilih tema kandugan hadits:
a) buka menu utama,
b) klik bahts,
c) klik bi dalaalah maudhu’ al-fiqhi
d) klik salah satu dari 14 tema yang ada,
e) klik sub tema yang dipilih,
f) klik gambar kaca pembesar,
g) klik hadits yang dipilih,
h) klik bukuterbuka.
8) Takhrij hadits:
a) buka menu utama,
b) klik bahts,
c) klik bi dalaalah takhrij al-hadits,
d) klik itab sumber (pilih 1),
e) klik kitab-kitab lain yang memuat (maks.8),
f) klik kaca pembesar,
g) pilih dan klik hadits yang dicari,
h) klik buku terbuka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar